Pertanyaan ini dilayangkan seorang ibu kepada saya ketika konsultasi via platform online. Sejenak saya berfikir, baby walker sudah digunakan oleh masyarakat luas sejak dulu kala sampai sekarang, ngga mungkin dong kalau ngga aman? Kemudian saya mencari literatur mengenai baby walker untuk memastikan sebelum menjawab pertanyaan ibu tersebut. Surprisingly, penggunaan baby walker ternyata menjadi kontroversi dan banyak ahli malah tidak merekomendasikannya. Wah, kenapa yah? Berikut ulasan beberapa sumber yang sudah saya rangkum.
1. Baby Walker meningkatkan kejadian cedera pada bayi
Menurut penelitian, sekitar 12%-50% pengguna baby walker mengalami cedera. American Academy of Pediatrics pada tahun 2001 melaporkan bahwa diperkirakan sebanyak lebih dari 8000 anak usia di bawah 15 bulan harus dilarikan ke rumah sakit karena cedera ketika menggunakan baby walker. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada artikel yang ditulis oleh dr. Irwanto, SpA menyebutkan contoh resiko cedera pada bayi seperti luka di kepala akibat jatuh dari tangga, luka lecet atau bahkan patah tulang akibat terjungkal dari baby walker di permukaan yang tidak rata, luka bakar akibat bayi dapat meraih benda panas seperti setrika, panci mendidih, dan lainnya.
Pengalaman saya sendiri juga pernah bertemu 1 kasus kecelakaan akibat baby walker ketika saya sedang jaga IGD di salah satu RS di Belitung. Kasus tersebut tergolong cukup parah karena 3 jari bayi harus diamputasi akibat bayi memasukkan jari-jarinya ke dalam lubang aksesoris baby walker lalu tidak sengaja terjungkal. Sangat disayangkan, ya?
Kejadian cedera pada bayi dapat dipicu oleh kelalaian orangtua dalam mengawasi bayinya. Umumnya orangtua merasa aman apabila bayi berada di dalam baby walker sehingga mungkin pengawasan orangtua sedikit berkurang ditambah apabila orangtua sembari mengerjakan pekerjaan yang lain. Padahal ternyata resiko cedera justru meningkat dan memerlukan perhatian lebih.
2. Baby Walker tidak mempercepat kemampuan berjalan bayi
Salah satu alasan orangtua membeli baby walker adalah karena dipercaya dapat menstimulasi bayi supaya lebih cepat berjalan. Nyatanya, justru sebaliknya. Beberapa jurnal penelitian menyebutkan baby walker tidak menstimulasi kemampuan berjalan pada bayi namun justru memiliki resiko bayi cenderung berjalan jinjit (toe-walking). Hal ini bisa dikarenakan permukaan baby walker lebih tinggi daripada bayi. Bayi juga tidak dapat melihat ujung kakinya sehingga kesulitan menyeimbangkan tubuh.
3. Baby Walker mungkin dapat menghambat perkembangan bayi
Beberapa penelitian mengaitkan penggunaan baby walker dengan keterlambatan perkembangan bayi. Pada peneltian yang sama disebutkan pada tahun 1999 melaporkan dua kasus bayi yang mengalami keterlambatan perkembangan motorik, kekakuan otot kaki dan perkembangan motorik yang menyerupai diplegia spastik, dan mengklaim bahwa gejala tersebut terjadi karena penggunaan baby walker secara dini. Namun butuh penelitian lebih lanjut mengenai kaitannya dengan perkembangan bayi dikarenakan penelitian yang ada masih terbatas.
Jadi bagaimana nih para orangtua? Saya harap ulasan saya di atas dapat membuka pandangan para orangtua sekalian. Sekalipun dalam keadaan terpaksa harus menggunakan baby walker, bayi harus tetap diawasi dengan ketat ya. Semoga bermanfaat :)
1. American Academy of Pediatrics. Committee on Injury and Poison Prevention. Injuries associated with infant walkers. Pediatrics 2001;108(3):790-2.
2. Badihian Sh, Badihian N, Yaghini O. The Effect of Baby Walker on Child Development: A Systematic Review. Iran J Child Neurol. Autumn 2017; 11(4):1-6
3. Chagas PS, Mancini MC, Tirado MG, Megale L, Sampaio RF. Beliefs about the use of baby walkers. Rev Bras Fisioter 2011;15(4):303-9.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/penggunaan-baby-walker?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=idai-newsletter&utm_content=Newsletter+IDAI+122

0 komentar:
Posting Komentar